Hegemoni Yahudi

Cina dan Yahudi adalah sampel yang tepat untuk masuk pada kategori pernyataan berikut ini: Jika suatu bangsa memiliki sistem bisnis yang kuat, maka walaupun tidak memiliki komoditas sendiri mereka bisa mengolah komoditas bangsa lain demi menghasilkan keuntungan. Bahkan, keuntungan yang mereka dapat jauh lebih besar dibanding bangsa yang memiliki komoditas itu sendiri.

Harus diakui, saat ini, di antara bangsa-bangsa di dunia, Cina dan Yahudi terlihat memiliki kekuatan bisnis yang lebih unggul dan bernilai lebih. Semua orang sudah mengetahui bagaimana kehebatan bisnis orang-orang Cina di setiap negara yang mereka tempati. Mereka selalu bisa beradaptasi untuk menjalankan bisnisnya. Seringkali bisnis yang mereka jalankan lebih hebat dibanding bisnis yang dilakukan oleh orang-orang asli atau pribumi.

Nah, begitu juga dengan Yahudi. Penulis buku ini, Anton A. Ramdan, mengatakan bahwa bangsa Yahudi memiliki hegemoni yang lebih kuat lagi ketimbang Cina, bahkan bisa dibilang merajai bisnis seluruh dunia. Apalagi pasca Perang Dunia II, sepak terjang para pebisnis Yahudi terlihat semakin menjadi-jadi. Perusahaan demi perusahaan mereka bangun hingga akhirnya menjadi kerajaan bisnis yang luas hingga ke setiap negara di dunia. Berbagai bidang bisnis pun mereka kuasai, dari bisnis retail, barang tambang, industri, perbankan, hingga teknologi mutakhir.

Di setiap bidang bisnis, selalu pebisnis Yahudi yang berjaya. Dan tidak hanya lahan bisnis, para pebisnis Yahudi juga mengendalikan berbagai institusi pendukung bisnis, seperti IMF dan World Bank. Lebih nekat lagi, mereka pun berani mempengaruhi institusi politik apa pun taruhannya, asalkan bisa mendukung kemajuan bisnis mereka. Contohnya Amerika Serikat. Melalui negara ini, para pebisnis Yahudi mampu mempengaruhi institusi politik berkelas internasional lainnya, seperti IMF dan World Bank.

Kaum Yahudi dapat melakukan itu semua karena mereka memiliki satu sistem bisnis dan ikatan kebangsaan yang lebih kuat dari bangsa mana pun. Mereka memiliki suatu sistem bisnis buatan mereka sendiri yang kemudian mereka sebarkan ke seluruh negara di dunia, dengan harapan bangsa-bangsa lain tunduk di bawah sistem tersebut.

Secara nalar, jika bangsa Yahudi merupakan pembuat sistem bisnis yang kini berlaku di seluruh dunia, maka pastinya merekalah yang paling jago menjalankan sistem ini. Contohnya sistem perbankan dengan riba (bunga?). Sistem riba merupakan sistem bisnis terkuat yang dimiliki oleh tangan-tangan bisnis bangsa Yahudi. Sistem itu diperkuat dengan adanya ikatan kuat di antara mereka, yang tidak lain adalah ikatan berdasarkan ras atau etnis yang terjalin sejak dahulu kala ketika pertama kali peradaban mereka terbentuk.

Ketika Muhammad diutus oleh Tuhan ke tanah Arab, di sana sudah hidup dan menetap orang-orang Yahudi. Kehidupan bisnis di Madinah dikuasai oleh bangsa Yahudi. Komoditas-komoditas penting mereka kuasai. Mereka juga memberi dana pinjaman dengan riba kepada kabilah-kabilah Arab yang sedang berperang dan tentu juga dengan jaminan. Biasanya, dana tersebut digunakan untuk membiayai semua keperluan peperangan. Hal ini sangat merugikan kabilah-kabilah Arab yang sedang berperang, mereka harus mengembalikan dana yang dipinjamkan oleh kaum Yahudi tersebut. Dengan demikian, tidak heran jika kondisi sosial dan ekonomi bangsa Arab ketika itu sangat memprihatinkan sebagai akibat praktik riba yang dijalankan oleh orang Yahudi. Keadaan ini sangat menguntungkan kaum Yahudi, karena dengannya mereka dapat mengendalikan bisnis dan perpolitikan di Madinah ketika itu.

Nampaknya kedigdayaan Yahudi semakin menjadi-jadi pada abad 19 hingga saat ini. Motivasi mereka tidak saja meraup materi, tetapi juga non-materi. Di satu sisi mereka berjuang sekuat tenaga untuk mendapatkan uang, dan di sisi lain mereka juga berjuang untuk menguatkan fanatisme ras. Kedua motivasi tersebut saling melengkapi dan saling mendukung. Motivasi seperti inilah yang mampu membentuk kekuatan mereka sehingga mereka mampu mendirikan sebuah imperium bisnis di mana-mana.

Kelompok mayoritas dari orang-orang Yahudi yang bermotivasi ganda ini kemudian dikenal dengan nama zionis. Kelompok zionis ini memiliki banyak SDM berkelas internasional. Tidak hanya pebisnis, tetapi juga para politikus, dokter, ekonom, penulis, jurnalis, teknokrat, dan beragam profesi lainnya. Para tokoh berpaham zionisme inilah yang berusaha dengan segala cara untuk menggenggam dunia dan memainkannya sesuka hati mereka.

Etnis Yahudi hidup menyebar di berbagai penjuru dunia. Mereka hidup dan tinggal di berbagai negara di semua benua: Amerika, Eropa, Australia, Afrika, dan Asia. Penyebaran orang-orang Yahudi di berbagai wilayah dunia turut membawa penyebaran bisnis mereka ke berbagai negara yang mereka tempati.

Dengan jaringan bisnis waralaba (franchise) dan Multi Level Marketing (MLM), Yahudi telah melebarkan sayap bisnisnya ke seluruh penjuru dunia, termasuk Indonesia. Di antara perusahaan-perusahaan milik Yahudi yaitu: General Electric, Carrefour, Nestle, Caltex, Exxon, Coca-Cola Company, dan McDonalds. Tidak lupa pula dengan perusahaan telepon genggam terlaris, Nokia, yang didirikan oleh keturunan yahudi, Fredrik Idestam.

Hampir di semua aspek Yahudi menguasainya. Dalam media massa, Yahudi telah menguasai American Broadcasting Companies (ABC), Columbia Broadcasting System (CBS), National Broadcasting Company (NBC), The New York Times, The Wall Street Journal, dan The Washington Pos. Dunia hiburan nomor satu sejagat bernama Hollywood juga dikuasai oleh mereka. Sebut saja produser dan sutradara film seperti Steven Spielberg, William Selig, Jesse Lasky, Samuel Goldwyn, dan Adolph Zukor. Di dalam bisnis penerbitan, Yahudi juga menunjukkan dominasinya, seperti Random House, Simon&Schuster, dan Time Book, inc. Ketiga penerbit ini mempunyai jaringan yang luas dan kuat. Dengan penguasaan media, Yahudi dapat mengendalikan opini publik di media cetak maupun elektronik.

Penulis buku ini mengingatkan bahwa ada satu hal yang mesti dipahami oleh pembaca bahwa Zionisme mempunyai tim yang ditugaskan untuk melakukan lobi ke lingkaran elite negara. Tim ini bertujuan agar semua rencana bisnis zionis dapat berjalan lancar. Di Amerika Serikat, kaum zionis memiliki tim lobi khusus yang dikenal dengan sebutan AIPAC (American Israel Public Affairs Committee). AIPAC sangat berpengaruh terhadap pengambilan kebijakan di kongres Amerika.

Tidak hanya itu mereka juga mengendalikan PBB, IMF, dan World Bank. Mereka memainkan pasar modal dan uang, misalnya, apa yang dilakukan oleh George Soros, seorang Yahudi, dalam meluluhlantahkan perekonomian Asia dengan berspekulasi di pasar mata uang. Anton juga mengingatkan bahwa kaum Yahudi juga menjerat negara-negara dunia ketiga, termasuk Indonesia. Negara-negara ini terus menderita karena terjerat utang yang disodorkan oleh IMF dan World Bank yang dikendalikan zionis tersebut.

Buku ini sangat layak untuk dijadikan referensi mengenai peta jaringan bisnis Yahudi. Misi penulis buku ini barangkali hendak mengajak masyarakat Indonesia untuk bangun dari tidur panjangnya, dan memperlihatkan peristiwa di balik yang terjadi di dunia saat ini, baik secara politik maupun ekonomi, yang tak lain adalah adanya campur tangan Yahudi.***

Leave A Comment