Komentar Tokoh Masyarakat dan Media tentang Sosok Akbar Tandjung

”Banyak orang mengatakan Akbar itu lemah karena selalu mencari jalan tengah. Tapi bisa juga dibalik, mungkin itu justru kekuatannya, karena dia itu halus, berakhlak mulia, penyayang, dan punya integritas moral.”
(Prof. Nurcholish Madjid, Rektor Universitas Paramadina, Wawancara dengan penulis di Jakarta pada 22 Oktober 2000)

“Saya kira figur Akbar adalah politikus yang sangat akseptabel dan lincah dalam bermain politik. Dia bisa berembuk dengan siapa saja. Gaya politik dan kepemimpinan Akbar-lah yang sebenarnya bisa dipastikan Golkar sekarang ini meraih simpati dari berbagai pihak.”
(Prof. R. William Liddle, Indonesianis, Guru Besar di Ohio University, Majalah Gatra, 11 Juli 1998)

“Akbar Tandjung adalah orang yang berlatarbelakang HMI, tapi juga seorang nasionalis dan terbuka untuk orang-orang Katolik.”
(Prof. Franz Magnis-Suseno, Rohaniawan Katholik, Majalah Forum Keadilan No. 39, 31 Desember 2001)

“Akbar Tandjung adalah sosok pemimpin yang bisa diterima di kalangan Kristen-Protestan, karena pandangan dan tindakan politiknya yang inklusif.”
(Dr. Binsar Sianipar, Cendekiawan Protestan, Wawancara dengan penulis di Jakarta pada 21 Juli 2003)

“Bung Akbar adalah tokoh pluralis. Dalam pergaulan sehari-hari ia tidak pernah membedakan batas-batas asal-usul, agama, etnis, ras dan ciri-ciri primordial lainnya. Karena itu figur Bung Akbar punya zone of acceptance yang cukup luas di kalangan masyarakat.”
(Dr. J. Kristiadi, Pengamat Politik CSIS, “Kata Pengantar” dalam Evendhy M. Siregar, Akbar Tandjung Anak Desa Sorkam, Jakarta: Pustaka Mari Belajar, 2000)

“Dilihat visi dan kemampuan manajerialnya dari keempat tokoh yang ada (M. Amien Rais, Abdurahman Wahid, Megawati Soekarano-Putri, dan Akbar Tandjung — penulis), Akbar Tandjung tampaknya figur yang paling mampu dan siap untuk menempati posisi presiden; sayangnya ia Orde Baru.”
(Prof. Aricf Budiman, Pengamat Politik, Media Indonesia, 08 Mei 2000)

“Akbar itu kader baik: mau belajar kepada siapa pun, berdiskusi, tidak menang sendiri, dan akomodatif — disertai jiwa leadership yang mapan.”
(Soedharmono, Mantan Wakil Presiden RI, Wawancara dengan penulis di Jakarta pada 05 September 2000)

“Akbar itu sosok politisi yang punya kearifan politik: luwes dalam pergaulan dan fleksibel dalam sikap-sikap politiknya.”
(A. Dahlan Ranuwihardjo, Mantan Ketua Umum PB HMI, Wawancara dengan penulis di Jakarta pada 22 Agustus 2000)

“Akbar bisa dikategorikan sebagai man of consensus. Dia berfungsi bagaikan jembatan yang bisa menghubungkan arah lalu lintas politik yang saling berlawanan.”
(Dr. Hamid Awaluddin, Wawancara dengan penulis di Jakarta pada 15 September 2000)

“Saya rasa dengan Akbar di sana (baca: Golkar, penulis), kepercayaan makin besar. Karena figur Akbar merepresentasikan reformasi total.”
(Aburizal Bakrie, Ketua Kadin dan Pengusaha, Pelita, 19 Agustus 1999)

“Langkah-langkah politik Akbar itu sangat terukur. Setiap ucapan dan tindakan politik sekecil apa pun, sudah diperhitungkan jangka ke depannya maupun implikasi ke belakangnya. Dia tidak pernah kebablasan.”
(Soetjipto Wirosardjono Wawancara dengan penulis di Jakarta pada 01 September 2000)

“Saya melihat Akbar Tandjung mewakili kalangan muda yang mewakili semangat zamannya.”
(Fahmi Idris, Mantan Aktivis HMI, Berita Buana, 12 Juli 1998)

“Komitmen Akbar pada perbaikan nasib bangsa ini begitu tulus, ikhlas, dan konsisten.”
(Aniswati Kamaludin, Mantan Aktivis HMI, Wawancara dengan penulis di Jakarta pada 03 Agustus 2000)

“Akbar itu seorang pribadi yang hangat, perhatian (care) dan humanis. Kalau jadi pemimpin dia pantas, karena sangat bertanggung jawab, suka mendengarkan orang lain, dan mampu berkomunikasi dengan baik.”
(Gambar Anom, Mantan Aktivis HMI, Wawancara dengan penulis di Jakarta pada 04 Agustus 2000)

“Akbar dibutuhkan karena tidak cukup kader negarawan, kader yang menempatkan kepentingan nasional di atas kepentingan partai, di atas kepentingan pribadi.”
(Herry Komar, Gamma, 31 Oktober 1999)

“Akbar itu merupakan salah satu figur kekuatan operasional-politis dari gerakan pembaruan Nurcholish Madjid.”
(Almarhum Ahmad Wahib, dikutip dari Pergolakan Pemikiran Islam, Jakarta: LP3ES, 1981)

“Akbar sebagai salah seorang figur politisi Muslim yang ikut terlibat mencairkan hubungan Islam dan negara pada tingkat praksis.”
(Dr. Bahtiar Effendy, Pengamat Politik, Wawancara dengan penulis di Jakarta pada 22 Juli 2000)

“Di dalam tubuh Golkar, Akbar sering dikategorikan sebagai figur politisi nasional yang mewakili faksi Islam reformis, yakni kaum modernis yang berasal dari Himpunan Mahasiswa Islam (HMI). Kelompok ini, terutama disimbolkan oleh Akbar, memiliki komitmen kuat terhadap ‘Islam’ (Islamic oriented). Namun, Islam yang dimaksud bukan dalam pengertian ideologis-formalis; melainkan lebih bersifat pluralis dan universal.”
(Prof. Azyumardi Azra, Rektor UIN Syarif Hidayatullah Jakarta, Is¬lam Substantif, Bandung: Mizan, 2000, hal. 226)

“Perilaku politik yang serba akomodatif bagi Akbar memang menguntungkan, tetapi bagi kepentingan rasionalisasi dan institusionalisasi demokrasi di era reformasi ini sangat merugikan.”
(Haedar Nashir, Republika, 18 Oktober 2000)

“…Akbar, persis kata Cak Nur, tetap rendah hati, berakhlak tinggi, dan ora rumongso biso. la ‘Lebih Solo’ ketimbang orang Solo!”
(Hajriyanto Y. Thohari, Wakil Sekretaris PP Muhammadiyah, Majalah Gatra, 22 Mei 1999)

“Kesantunan Akbar dalam berpolitik merupakan modal besar yang sangat positif. Tapi hal itu juga sekaligus kelemahannya: dia dianggap tidak memiliki ketegasan dalam mengambil sikap politik.”
(Ahmad Bagdja, salah satu Ketua PBNU, Wawancara dengan penulis di Jakarta pada 22 September 2000)

“Kami menganggap Akbar sebagai calon (baca: presiden, penulis) yang bisa menjembatani kelompok Islam dan kelompok nasionalis.”
(Majalah Mingguan, GAMMA, 31 Oktober 1999)

“Akbar Tandjung bukan saja oke, tetapi sering dibicarakan sebagai salah seorang pemimpin politik yang piawai, bervisi, dan bersikap kenegarawanan serta dinilai juga memiliki kemampuan untuk menyelenggarakan pemerintahan.”
(Harian Umum Kompas, 22 Agustus 2000)

“Akbar dianggap sebagai pemimpin yang punya visi jauh ke depan.”
(Harian Umum Pelita, 19 Agustus 1992)

Leave A Comment