Figur yang Tetap Diperhitungkan

AKBAR Tandjung adalah sosok politisi Indonesia yang patut diperhitungkan. la memulai karier politiknya betul-betul dari bawah. Sebuah proses alamiah, yang membuatnya matang.
Saya merasa nyaman bekerja sama dengan Akbar Tandjung ketika menjadi pimpinan DPR. Karena sifatnya yang kolegial dalam sebuah kepemimpina kolektif. Akbar sangat elok dalam memposisikan dirinya dengan para wakil ketua. la orang yang sangat santun, dan sangat peduli dengan siapa saja.

Akbar selalu membuka pintu lebar-lebar untuk tamu. Suka menolong, low profile, dan rela berkorban. Ini terlihat, betapa tegarnya Akbar ketika harus menghadapi badai tuduhan Buloggate. Sebuah pengorbanan yang luar biasa. Kalau ia tidak memikul risiko itu, akibatnya bagi Golkar tentu dahsyat sekali.
Satu hal lagi yang luar biasa, Akbar bisa memimpin sidang dewan dengan tersenyum. Padahal, beberapa jam sebelumnya ia habis menangis ketika menghadapi sidang pengadilan,

Ada yang menilai, Akbar tidak konsisten. Sebab, ketika angin reformasi bertiup, ia pun ikut. Sebagai politisi yang cerdik dan cerdas, memang harus seperti itu. Akbar juga sosok yang tidak ambisius, melainkan memiliki ambisi besar untuk meraih cita-citanya. Sebab, Akbar berhasil memperoleh posisi-posisi politik dengan cara yang wajar.

Untuk maju dalam Pilpres 2009, Akbar tetap punya peluang. Soal orang pertama atau orang kedua, semua tergantung peta politik yang memungkinkan. Sebab, kepemimpinannya di Golkar sangat diperhitungkan.

Kala memimpin Gokkar, ia menanggung risiko berat. Bukan hanya masalah Buloggate. Ketika Golkar dihujat habis-habisan di seantaro nusantara, justru ia berani melawan badai. Tak hanya sekadar didemo, ia juga menghadapi tindakan kekerasan ketika berkunjung ke daerah membela partainya.

Itu sebagai bukti betapa ia sangat loyal kepada Golkar. Sekarang, Akbar tetap anggota Golkar. Bila ia maju dalam Pilpres dari Golkar, perlu pergulatan internal yang sulit diperhitungkan. Karena ada saingan berat, figur lain, yang sedang memegang jabatan, baik jabatan formal dalam Golkar atau dalam posisi di pemerintahan. Tentu tidak mudah bagi Akbar menghadapinya.

Dalam Pilpres, masalah perahu merupakan persyaratan formal. Kalau Golkar tidak memungkinkan, dia harus pertimbang-kan hal lain. Mungkin sulit kalau menggunakan PAN sebagai perahunya, meski secara pribadi saya simpati pada kepemimpinannya.

 

Oleh : A.M. FATWA (Wakil Ketua MPR dan Wakil Ketua MPP PAN)

Leave A Comment